lagi, 10 Tewas di Gunung Botak

Sebanyak 10 penambang tewas akibat melakukan pen­curian emas di kawasan penam­bangan emas di Gunung Botak, Desa Wamsait, Kecamatan Teluk Kayeli, Kabupaten Buru ternyata berhasil menerobos ke­tatnya pengamanan oleh aparat keamanan di lokasi tersebut.

Aktivitas para penam­bang yang nekat mene­robos kawasan penam­bangan yang sudah ditutup sejak awal Desember 2012 tersebut bukan baru pertama kali terjadi tetapi sudah seringkali terjadi.

Diduga aparat keamanan sengaja membiarkan para penambang mene­robos kawasan Gunung Botak disebut-sebut memiliki kandungan potensi emas yang saat banyak.

Yang anehnya para penambang yang nekat menerobos ketatnya penga­manan merupakan penambang yang berasal dari luar Provinsi Maluku se­mentara warga adat yang memiliki hak ulayat di lokasi tersebut justru tetapi mematuhi keputusan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buru yang telah menutup lokasi tersebut.

Buktinya, penambang yang tewas pekan lalu berasal dari Kolaka-Sula­wesi Tenggara. Mereka masuk ke lokasi tersebut melalui jalur C melewati pos yang dijaga personil Batalyon Infanteri (Yonif) 733/Raider.

Menyikapi hal tersebut, Pangdam XVI/Pattimura, Mayjen TNI Eko Wirat­moko saat dikonfirmasi Siwalima melalui telepon selulernya semalam mengaku, personilnya di lapangan tidak mengetahui adanya penambang liar yang menerobos masuk ke kawasan tersebut melewati pos TNI.

Menurutnya, kawasan Gunung Botak sangat luas, sehingga penambang liar bisa leluasa menerobos saat malam hari ke kawasan yang telah ditutup tersebut. 

“Jadi aparat kami di lapa­ngan tidak mengetahui jika ada penambang yang menerobos. Mereka itu menerobos saat malam hari dan areal Gunung Botak luas, sehingga tidak terpantau,” ungkapnya.

Sementara itu, langkah cepat akhirnya dilakukan pihak kepolisian terkait peristiwa tewasnya 10 penambang emas di kawasan Gunung Botak, Desa Wamsait Kecamatan Teluk Kayeli Kabupaten Buru Senin (7/1).

Bagaimana tidak, pasca ditutup oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buru, lokasi tambang praktis dijaga ketat pihak keamana baik TNI maupun Polri. Tewasnya 10 penambang liar yang berupaya menerobos pos pengamanan di kawasan Gunung Botak tersebut saat ini masih diselidiki Polres Buru.

Ditemui di ruang kerjanya Selasa (8/1), Kepala Bidang Hubungan Masya­rakat (Kabid Humas) Polda Maluku, AKBP Hasan Mukadar menjelaskan, kalau pihaknya sudah langsung menyelidiki tewasnya 10 orang di Gunung Botak tersebut. “Kita menyesal juga kalau penambang liar nekat menerobos masuk ke areal yang saat ini ditutup pemerintah. Tapi untuk mengetahui penyebab kematian saat ini aparat kami sudah langsung menyelidiki di lapangan,” jelasnya Mukadar.

Ia meminta kepada masyarakat untuk menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada pihak kepolisian guna mengungkap penyebab kematian penambang liar tersebut.  

Bupati Harus Tegas

Bupati Buru, Ramly Umasugi didesak untuk konsisten menutup areal pertambangan emas di kawasan Gunung Botak. Desakan tersebut disebabkan kendati areal pertambangan sudah ditutup dan sekarang dijaga aparat keamanan, namun aktifitas penambang liar masih berlangsung dan dibiarkan oleh aparat TNI yang ditugaskan untuk menjaga aktifitas masyarakat.

Akibat dari ketidakonsitenan Pemerintah Kabupaten Buru dalam menutup areal tambang di kawasan Gunung Botak itu, mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.

Anggota DPRD Provinsi Maluku Daerah Pemilihan Buru, Rabea Muin kepada wartawan di Baileo Rakyat Karang Panjang Ambon, Selasa (8/1) mempertanyakan komitmen Pemkab Buru untuk menutup kawasan Gunung Botak dari aktiiftas penambang liar.

“Kawasan tambang Gunung Botak sudah ditutup dan aktifitas warga yang masih diberlangsung di sana meru­pakan tindakan ilegal. Kami minta agar Pemkab Buru konsisten menutup areal itu. Areal sudah ditutup tetapi warga masih beraktifitas dan yang menjadi bukti adalah tewasnya 10 penambang, ,” tandas Rabea Muin.

Dikatakan, Pemerintah Kabupaten Buru harus melakukan koordinasi dengan aparat keamanan untuk tidak meng­izinkan warga kembali beraktifitas di gunung botak.

Seperti diketahui, kawasan pertam­bangan emas di Gunung Botak, Desa Wamsait, Kecamatan Teluk Kayeli, Kabu­paten Buru kembali menelan korban. Sebanyak 10 penambang tewas akibat melakukan pencurian emas di Gunung Botak. Sembilan penambang dilaporkan tewas tertimbun dan satu lagi tewas aki­bat menghirup gas beracun di dalam lubang.

Informasi yang berhasil dihimpun Siwalima, Senin (7/1) terungkap, sembilan penambang yang tewas tertimbun itu hingga kini tidak pernah dilaporkan kepada pihak kepolisian.

Namun kejadian itu sendiri terjadi pekan lalu di dekat kawasan keramat yang disebut-sebut memiliki kandungan potensi emas saat kesembilan penam­bang ini masuk lubang dan menjarah emas  di beberapa kolam cair.

“Lubang tersebut tiba-tiba saja longsor dan menimbun mereka di dalam. Umum­nya penambang ini seluruhnya berasal dari luar Maluku. Mereka masuk men­jarah karena mendapat izin dari oknum aparat yang bertugas di gunung botak,” jelas sumber Siwalima yang enggan namanya dikorankan, Senin (7/1) .

Peristiwa terakhir terjadi Rabu (3/1) lalu, saat tiga penambang asal Kolaka-Sulawesi Tenggara masuk melalui jalur C melewati pos yang dijaga personil Batalyon Infanteri (Yonif) 733/Raider, sekitar pukul 05.00 WIT.

Ketiganya hendak menjarah lubang-lubang galian di dekat lokasi yang ditinggalkan penambang pasca penutupan kawasan tambang tersebut pada 4 Desember 2012.

Sekitar pukul 07.00 WIT, penambang yang bernama Mustalib, duluan masuk ke salah satu lubang. Dua rekannya yang masih berada di atas hanya mendengar teriakan seperti orang tercekik dari dalam lubang setelah itu tidak lagi terdengar apa-apa.

Keduanya kembali turun melapor ke pos Yonif 733/Raider guna meminta bantuan, namun korban Mustalib setelah berhasil diangkat dari dalam lubang ternyata sudah tidak bernyawa.

Dua rekan korban bernama Saibela dan Hasyim, mengaku sudah sering masuk menjarah di sekitar lokasi tersebut karena mendapat izin dari personil Yonif 733/Raider. Mereka selalu masuk setiap pukul 05.00 WIT dan keluar menjelang sore hari. 

Korban kemudian dibawa ke RSUD Lala dan mayatnya telah dipulangkan ke Kolaka dengan menggunakan KM Lambelu Sabtu (5/1) melalui Pelabuhan Namlea. Lokasi penambangan emas di kawasan Gunung Botak, Kabupaten Buru, Maluku, ditutup sejak 5 Desember 2012, menyusul pertikaian menewaskan lima orang dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.

siwalima

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s